PENGALAMAN HIDUP DI BALI


Hai hai semua. Terima kasih karena temen temen masih mau membaca postinganku ya!
I see you guys no matter yang baca (semenjak aku lama nonaktif) pasti under 50, tapi aku bersyukur masih ada yang mau baca loh. Akhir akhir ini aku ngerasa lagi hype untuk menulis konten lagi, karena sebanyak apapun aku mempelajari hal baru, passionku tetap ada di story telling-speech-writing.

Mungkin karena dari kecil aku sudah memilih dunia ini sebagai media bermainku, sampai gede pun ngga jauh jauh dari dunia menulis. Aku melihat orang tuaku sedari kecil sudah sangat mendukung apapun dan bagaimanapun aku, termasuk pilihanku untuk pindah ke Bali.

Memang belum lama sih aku menetap di sini, pertanggal 30 besok adalah 27 bulanku di Bali. Sumpah jangan dihitung pertahunnya, biar kelihatan banyak nominalnya gitu. Alasan utama aku pindah ke Bali karena mendekati pekerjaan ya. Setelah masukin lamaran ke semua tempat, ternyata yang lolos sampai tahap diterima training ya di Bali ini. Perusahaan percetakan.

Meskipun sekarang aku ngga hanya bekerja, aku menikmati pengalaman baru di setiap harinya. Exactly why, aku bisa betah banget di Bali walaupun sendiri. Aku cukup bangga karena dari semua anggota keluarga besar mama, hanya aku perempuan yang berani melawan ketidakberdayaan dan memutus tradisi keluarga. Tradisi apa itu, tradisi yang jelasnya ngga mau aku tiru karena ngga sesuai dengan prinsipku. Dan dari keluarga besar papa, aku dan tante jadi perempuan yang berani keluar Jawa. Bedanya tante udah kembali tapi aku masih lama, hehehey.

Pertama kali dapat kabar aku diterima kerja di sini, jelas kaget sekaget kagetnya. Karena siapa sih yang ngga shock kalau tau anaknya/saudaranya/sepupunya/pacarnya yang biasa dilihat wajahnya tingkah lakunya dan lain sebagainya, tiba tiba harus ditauin bakalan pergi jauh? That’s totally me, my parent, my neighbors, semuanya.. semuanya pasti kaget. Tapi pada waktu itu, kami saling menutupi dengan menunjukkan rasa cinta sedalam dalamnya sebelum waktuku berangkat tiba.

Pas papa lagi ngga punya saku untuk aku, akhirnya semua pada kasih aku duit. Nenek, om tante, adiknya nenek, orang tua, semuanya pada “iuran” buat aku, start kit di Bali lah istilahnya. Disitu letak terharunya akuuu. Dan dengan sedikit tabungan di ATM ku juga, aku nekat bertahan di Bali sendiri. Pelan pelan aku mulai bisa menata keuanganku, rencana jangka pendek-panjangku, sampai akhirnya pencapaian terbesar 2 tahun kerja adalah bisa bayar kuliah 2 tahun lunas. I never forget every help from people around! Sumpah ngga akan lupa kalau bisa malah aku harus lebih respect dan ngerti sama kondisi mereka.

Nah, setelah di Bali, what I got? Ternyata aku dapat banyaaak hal mengenai dunia. Dunia yang sebelumnya aku pikir ngga akan aku dapetin, ternyata aku bisa menyentuh, kenalan, ngajak ngobrol, ngopi bareng, ketawa bahkan sedih sama pengalaman pengalamannya. Pindah ke Bali membuat aku merangkak dari nol untuk bisa menjadi seperti apa yang aku mau.

Papa pernah bilang “kalau kamu ngga ke Bali, mungkin kamu ngga akan kuliah. Bergerak itu perlu, penting untuk tahu sampai mana batasmu melawan arus dan bisa jadi lebih baik.” Well, meskipun beliau ngga lulus SMP tapi pengalamannya kuakui sangat sangat berharga. Kehidupan yang udah ngajarin papa sampai seperti hari ini, siapa sih yang ngga bangga? Kata katanya itu yang jadi motivasi aku, kalau aku ngga ke Bali ngga mungkin aku jadi seperti hari ini. Anak kecil yang tangguh, anak perempuan yang berani membuktikan kemampuannya diatas rata rata.

Masuk ke Bali, aku jadi minoritas yang punya ruang cukup. Maksudnya begini, sering aku dapat pertanyaan seperti ini, “Siapa namanya?” “Aulia” “Oh dari Jawa ya?”. Kalau aku sebut nama “Rahma” mungkin mereka masih menerka karena nama Rahma juga ada di Hindu. Sedangkan nama Aulia, siapa dong yang punya.. udah jelas siapa kan. I’m definitely ngga berniat rasis, tapi memang seperti itu kenyataannya.

Soo, this is the core, inti. Why I love Bali?

Hey, Bali juga punya adzan namanya Puja Trisandya  loh. Trisandya adalah mantram dalam Hindu yang dilaksanakan untuk persembahyangan 3 kali sehari, yakni jam 6 pagi-12 siang-6 sore dikumandangkannya. Jadinya kalau sama adzan ya memper dikit laah waktunya. Dan Bali itu fuuuull of music. Ketika ada upacara atau kegiatan apa, pasti sekitaran banjar akan kedengeran musiknya. Somehow, ini yang bakal aku kangenin kalau aku pergi dari Bali.

Budaya Bali di daerah perkotaan memang sudah tergerus oleh zaman. Tapi kalau kamu ke desa, asli enak banget dan bener bener kerasa Balinya.
Bali adalah tempat paling santuy dari semua tempat yang pernah aku jajaki. Bisa dibilang Bali adalah tempat dengan tingkat stres yang rendah, ada banyak alasan dan teori mengapa Bali dianggap sebagai lingkungan paling bahagia.
  1. Bali tempat berbagai suku agama ras dan budaya bermuara. Kamu cari orang Muslim, Hindu, Budha, Kristen, Yahudi, bahkan ngga memilih agama pun ada. Suku manapun ada, saya ngga bisa sebutin satu satu karena suku pasti banyak. Budaya, mau budaya timur budaya barat kamu akan temukan di Bali. Sudah ngga perlu kaget kalau lihat banyak pemandangan bikini di pantai, ngga perlu kaget lihat orang bawa bir bin*ang sambil jalan jalan. Orang bercadar juga banyak di sini. Jangan salah meskipun Hindu adalah mayoritas, tapi semua memiliki porsi dan tempatnya masing masing. Ngga perlu takut dikucilkan atau menerima rasis di sini.
  2. Bali adalah kependekan dari BAnyak LIbur. Upacara yang diadakan itu banyak ya guys, dan aku ngga hafal satu satu tapi memang ketika umat Hindu melakukan upacara atau ada perayaan, secara otomatis pekerja kantor, murid, dsb akan dapat libur. Seenak itu loh tinggal di Bali. Kalau habis upacara juga biasanya dapat buah, i dunno ini buah yang sudah disembahyangi atau gimana tekniknya karena aku ngga mempelajari Hindu, tapi seseneng itu bisa ngerasain ikut euphorianya orang upacara.
  3. Nyepi. The best part ever. Dari nyepi aku belajar bahwa manusia perlu merenungkan diri sendiri, mengambil waktu untuk diri sendiri dan beranjak dari hiruk pikuk kegiatan selama ini. The most I hate is ketika lihat pawai ogoh ogoh, aku pernah hampir pingsan karena perpaduan asap, flare, keringat jutaan orang, suara gamelan dan bau bau yang lain bercampur menjadi satu. But seriously, aku pribadi mengalami betapa mistisnya alunan gamelan Bali. Bukannya aku nakutin atau menunjukkan apa yang tidak biasa, tapi ini pengalaman spiritualku bahwa ogoh ogoh tidak hanya sekedar bentuk pawai lalu melebur keburukan dalam diri manusia, juga gamelan bukan sekedar alat musik yang bisa kasih kita alunan yang enak didengar tapi ada sesuatu seperti nyawa di dalamnya. Biasanya kalau persiapan nyepi, orang bakalan riweuh belanja ngalah-ngalahin lebaran wkwk. Mau ga mau aku juga harus ikutan riweuh antri belanja demi ga kehabisan stok makan.
  4. Apapun bisa dijual, apapun bisa jadi barang mahal, apapun pasti dibeli. Bahkan sampai ada istilah, kamu jualan ta* digoreng pun orang juga akan beli. Hehehey, becanda ding. Well, karena banyak orang dari berbagai kalangan seperti yang aku sebut di atas, bisa dibayangkan dong apapun bisa dijual di Bali. Di tempat wisata aja, pas musim hujan ada loh yang menyediakan jasa payung seharga 2000an/payung. Bayangin dia punya 5 payung dipakai semua berarti 10.000 sekali jalan. Kalau dua jam aja dia diem disana dan dapat 50 orang, 50x2000=100.000 untuk dua jam! Can you imagine kalau tiap hari hujan terjadi selama 2 jam? Hehey ga mungkin tapi ding ya. Yah intinya aku mau bilang aja, cari duit di Bali itu gampang (ASALKAN ADA KEMAUAN).
  5. Nyuri itu gengsi. Hei dude, kalau kamu ke Bali lihat orang masuk ATM dan mesin motornya masih nyala+kunci kontak belum dicabut dari motor, itu udah biasa! Yang namanya pencurian itu berasa haram kalau di Bali. Apalagi mencuri barang yang udah kelihatan wujudnya sangat kelihatan sekali, kalau ketahuan bisa malu. Tapi memang dasarnya society sudah ditanamkan untuk jangan gampang pingin lihat punya orang, jadinya kalau lihat orang lain punya meskipun dia pingin ya dia akan mengusahakan dengan cara yang bener. Bukan dengan nyuri atau pakai cara buruk lainnya. Istilahnya jangan sampai tindakan kita merugikan orang lain. Kenapa? Karena they believe karma. Semua terjadi karena hukum alam tebar-tuai. Jadi kalau kita tanam negatif, hasilnya pasti negatif juga, dan itu yang mereka tidak ingin terjadi.
  6. Selanjutnya, kamu cari orang nyinyir di Bali? Salah tempat! Bali adalah tempat paling cuek yang pernah aku tinggali. Mau kamu naik motor ga pakai baju, biasa aja. Cewe ga pakai bra jalan jalan juga biasa aja. Who’s care? Inilah salah satu alasan kenapa aku suka Bali, karena nyinyir itu ngga ada. Kalaupun ada, biasanya sih kaum kaum tertentu aja yaa.. but that’s not a big problem. Selama kita ngga buat masalah, maka ya damai damai aja.
Am I happy living here? Yassshhh.. kalau ngga seneng, mungkin under 1 year aku udah cabut dari Bali. Sekali lagi, Bali adalah tempat terbaik yang pernah aku tinggali. Walaupun suatu saat mungkin aku harus pindah ke tempat lain, Bali tetap akan jadi no 1 dihati. Bali mengajarkan aku ibarat bayi tuh mulai dari merangkak, gabisa bangun, belajar berdiri, latihan jalan, dan harapannya sampai aku bisa lari kenceng. Orang orangnya, budayanya, gaya hidupnya, lingkungannya, semua match sama aku dan aku kaya ngga ragu gituloh untuk tinggal lama disini.

And the ending of topic.. Bali akan selalu jadi tempat istimewa, sama seperti jogja yang penuh kenangan, Bali adalah tempat penuh pembelajaran. Bali sejuta cerita, kalau ngga percaya, cobain deh ngerasain tinggal di Bali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

YANG HILANG ITU TIDAK BENAR BENAR HILANG

Cerita Pendek Pengalaman Pribadi

UNDEFINED TITLE