UNDEFINED TITLE
Hallo.
Lama tidak berjumpa dengan blog
sendiri, dan sejujurnya saya merasa tidak percaya diri dalam hal tulis menulis
blogging. Tapi biarlah, toh ini kan
blog pribadi, saya bebas melakukan apapun untuk kepemilikan saya. Oh ya, baru 1
tahun 4 bulan di Bali saya sudah ingin bercerita bagaimana saya struggling di tempat yang tidak pernah
terbayangkan sebelumnya ini.
And the story begin...
Haha.
Hari ini hari Minggu dan saya
masih berkutat dengan beberapa file
yang tidak ada habisnya (bagi saya), harus kesana kemari menyelesaikan
kewajiban, mengerjakan ini itu, begitu pulang tau tau sudah malam. Mau apalagi
selain tidur? Ya tidak?
Hm, harus darimana saya cerita
ya, ok, dari sini.
Hari Senin sampai Sabtu adalah
waktu bekerja saya sebagai operator mesin UV print, bekerja di perusahaan jasa besar tidak pernah saya pikirkan
sebelumnya. Mesin UV yang saya operasikan ukurannya 2,5 meter dikali 1,5 meter lho. Mesin besar yang ngga tanggung tanggung, sekali ada
masalah harus datangkan teknisi dari luar Bali, semua serba mahal, dan mesinnya
sangat sensitif (melebihi saya!). Waktu bekerja saya adalah pukul 8 pagi sampai
5 sore WITA, dan selama itu pula saya harus pacaran dengan mesin, a long day.
Hari Senin sampai Kamis harus kuliah,
mulai pukul 5.30 sore sampai 9 malam WITA. Capek? Banget. Tugas? Ada lah. Kerja-Kuliah-Tidur.
Begitu semboyannya. Sampai hari ini sih
masih kuat, tapi belum tahu gimana
beberapa tahun ke depan. Kuncinya 1, “nikmati”. Saya mahasiswi jurusan
Manajemen dengan konsentrasi Sumber Daya Manusia, program studinya 4 tahun, S1
lah. Kalau tepat waktu 2022 sudah lulus. Sekali lagi, kalau tepat waktu. Semoga
bisa tepat waktu lah ya. Teman-teman saya hampir semua sudah bekerja juga, jadi
ngga terlalu takut sendirian sih. Dan semolor-molornya saya, masih ada
yang lebih molor lagi kok. Dosen lucu
ada, dosen tegas ada, dosen asik ada, dosen dosenan juga ada. Wkwk. Tapi so far saya menikmati semua. Dosen bilang, pembelajaran di kelas
hanya 20%, sisanya mahasiswa harus belajar sendiri. Ya iyadong, kalau ngga belajar
percuma juga masuk kelas. Ngga akan
masuk ilmunya, kecuali kamu anak ber-IQ 200 dan bisa ngerjain 50 soal matematika dalam waktu 10 menit.
Tapi, hari Jumat malam sampai
sebagian hari Minggu adalah waktu saya bekerja (lagi). Ah, ngga boleh mengeluh. Sebab itu yang harus saya nikmati, prosesnya. Well, disana tugas saya me-manage file client dan penyediaan stok, membuat branding produk yang... (haha) hal baru bagi saya. Semua adalah hal
baru, dan lagi-lagi saya harus belajar. Mumpung masih muda, masih ingin
melakukan banyak hal, berarti harus gerak cepat dan jeli melihat peluang yang
ada, kan.
Sebenarnya pukul 8 pagi sampai 5
sore adalah waktu kuliah terbaik bagi saya. Di Lentera. Di sana saya belajar
banyak, ilmu yang saya dapat lebih banyak (daripada di kampus), dan bagi saya
di sanalah tempat saya beristirahat. Ngga
mungkin di kampus, sedikit kemungkinan istirahat di workshop, stay di indekost juga mentok 10 jam. Jadi, kantor adalah
tempat ternyaman bagi saya. Ketemu customer,
ngerjain ini itu, banyak yang saya
lakukan dan ngga sekedar duduk menerima
apapun yang masuk. Toh kerjaan saya ngga berat-berat banget, istirahat ini dalam artian ngga mondar mandir di jalanan, ngga
panas-panasan, ngga angkat barang
atau terpaku pada buku atau paper
kuliah. Sedangkan di kampus adalah waktu terbaik untuk refresh otak dari kerjaan yang bikin
sesak kepala, ketemu teman, ngakak bareng, menyusuri jalanan
Sudirman-Sesetan-dkk, ngerjain tugas,
ngumpulin, duduk, dengerin dosen menerangkan materi, dan
kegiatan seru lain. Seru dalam artian engga
jenuh ya. Kalau jenuh sama kerjaan ya lari ke tugas, jenuh sama tugas, yaudah
tidur aja sana. Tapi masalahnya, waktu istirahat hanya di malam hari, nahlo.
Bagi saya, bekerja dan pendidikan
itu sama pentingnya. Mau kamu berkarir atau jadi ibu rumah tangga nantinya,
ilmu tetap berguna. Rugi rasanya jika hidup tidak berilmu. Dan sangat merugi
apabila punya kesempatan tapi ngga dimanfaatkan dengan baik. Tinggal kita yang
harus pintar-pintar membagi waktu, jangan sampai sakit. Kalau sakit ya rugi
sendiri, semua pasti berantakan. Apalagi saya tipe orang yang susah membagi
fokus, tapi bisa berpikir untuk lebih dari 3 tempat. Itu kelebihan sekaligus
kelemahan saya. Tinggal bagaimana saya merealisasikan planning yang saya miliki untuk supaya semua bisa imbang jalannya.
Dulu saya sering marah karena
papa ngga punya waktu untuk anak-anaknya, sempet terpikir papa ngga sayang
karena kalau ngajak keluar kemana gitu harus nyesuaiin sama jadwal beliau. Bagi
saya, anak-anaknya papa itu nomor sekian, kerjaan nomor satu. Tapi sekarang
saya ngerti gimana rasanya jadi kepala keluarga yang menghidupi satu keluarga.
Saya ngga boleh mengeluh karena masih membiayai hidup sendiri, lebihnya untuk ibu
saya. Oh gini rasanya cari duit, gimana coba yang kerjanya ngga ikut orang,
ngga ada jaminan, bener-bener usaha sendiri. Papa termasuk kuat karena
pondasinya udah dimulai sejak puluhan tahun lalu. Jatuh bangun terus dicoba
sampai beliau ada diposisi sekarang, jujur saya salut sama beliau. Denger
beliau mau sekolah lagi aja bikin
saya iri. Rencana-rencananya sangat mantap jauh ke depan, padahal umurnya baru
39. Memang sih usia bukan masalah,
dan saya belajar dari sekarang untuk membuktikan bahwa saya layak untuk menjadi
mandiri secara global. Dari beliau juga saya belajar bahwa sukses itu ngga
diraup dalam waktu tahunan. Harus penuh dedikasi dan do’a yang ngga berhenti.
Ngga ada orang sukses yang kerjanya ongkang-ongkang kaki, kecuali dia turunan
orang kaya yang hartanya ngga habis tujuh turunan. Ya kali buk....
Papa selalu ngajarin untuk kerja
cepat tapi teliti, santai tapi bener, pelan pelan tapi selesai tepat waktu, dan
itu saya terapin sampai hari ini walaupun belum sebaik beliau. Setiap bertemu
atau bincang berdua pasti yang diomongin adalah rencana jangka panjang. Beli
tanah, beli mobil, ke luar negeri. Haha, obrolan beratnya bikin saya rindu.
Well, saya harus buktiin bahwa anaknya papa ngga kalah dengan anak anak lain
dalam keluarga besar kami, bahwa anaknya papa bisa jaga diri, bahwa kami ngga
ngecewain orang tua dan bikin malu/aib orang tua.
Itulah kenapa saya harus gerak
cepat, mumpung masih diberi kesempatan belajar di tempat orang, masih diberi
kesempatan menjajal dunia luar, melihat mana yang baik dan perlu ditiru,
menengok yang buruk dan ditinggalin. Tapi... ngomong doang gampang sih, butuh
realisasi yang sesuai. It takes time. As I told you before, ngga ada proses
yang singkat, masak mi instan aja butuh waktu. Gimana dengan yang namanya
belajar?
Nikmati prosesnya, jalani sesuai trackingnya, coba semua jalan sampai
bener-bener mengerti, dan tidak takut jatuh, karena fase dalam hidup tuh ngga
bisa diulang kembali. Kalau sudah lewat ya sudah, tinggalkan. Ngga bisa kita
kembali ke masa lalu. Tugas kita hanya mempelajari yang sudah pernah terjadi,
bukan menyesalinya.
Pada akhirnya saya masih (harus) stay di Bali untuk minimal 5 tahun ke
depan. Untuk rencana selanjutnya sih, belum
menyusun. Entah menjajal bidang baru, entah sekalian melanjutkan pendidikan,
atau menjalani yang sekarang didapat ini. Entahlah, masih banyak waktu menuju 5
tahun kedepan, tugas saya yang penting sekarang adalah menuntaskan yang sudah
dimulai ini.
Karena sudah waktunya beberes ke
workshop, saya sudahi sesi tulis menulis kali ini. Lain waktu, lain kesempatan,
dan lain cerita pasti akan saya curahkan di sini. Jujur saja saya merasa lebih
baik ketika menumpahkan pikiran saya di blog seperti dulu, and I feel it now 😊
Salam!
Komentar
Posting Komentar