AKU : KENAPA GAP YEAR DAN BAGAIMANA MELEWATINYA
Hallo, reader, well
mulai hari ini aku sebut temen temen semua “reader” karena memang harus.
Udah cukup lama aku ngga nulis dan seperti biasa lah, kesibukan dan padatnya
jadwal bikin aku menomorsekiankan diary digital-ku.
Kali ini aku akan tulis sesuatu
yang pernah aku alami. Gap year. Siapa sih yang ngga kenal gap year?
Tbh, aku baru tahu istilah ini setelah ada temen dari organisasiku yang cerita
kalau dia gap year setahun. Buat kalian yang belum tahu gap year
itu apa, aku beri penjelasan di bawah.
Seperti yang dilansir dari laman
Thesaurus.com, gap year adalah suatu periode dimana seseorang mengambil
rehat atau istirahat dari sekolah untuk bepergian, bekerja, atau menjadi
voluntir yang biasanya dilakukan setelah lulus SMA dan sebelum masuk bangku
perkuliahan.
Nah secara pengertian, kurang
lebih gap year adalah bentuk cuti dari bangku pendidikan dalam kurun
waktu yang tidak ditentukan. Kalau di atas aku bilang temenku gap year 1 tahun,
ternyata ada yang hanya gap year selama beberapa bulan, antara 3 sampai 6 bulan
sih biasanya. Hanya saja di sekitarku, aku belum pernah nemuin gap year education
yang sesingkat itu.
Secara pribadi aku juga gap
year selama 1 tahun, tujuannya karena emang belum ada uang buat kuliah.
Waktu itu banyak pertimbangan dan kebutuhan yang bikin aku memutuskan cuti
sekolah dan langsung ambil kesempatan kerja. Pertimbangan pertama, karena
papaku udah membiayai aku sejak usia 20 tahun, beliau memutuskan istirahat
untuk pembiayaan pendidikanku. Selain karena ngurusin pendidikanku, beliau juga
ngurusin pendidikan adikku. Itu sebabnya aku mengalah karena tahu perjuangan beliau
dari awal aku sekolah, usia 3 tahun sampai lulus SMK kemarin. That’s enough
for me lah ya...
Pertimbangan kedua, karena
ternyata papa udah masukin aku ke dinas perhubungan di Malang lewat temennya,
hanya saja waktu itu karena belum ada lowongan, aku di rumah sampai nunggu
panggilan. Papa bener bener mikirin gimana masa depanku, aku tahu setiap orang
tua punya formula yang beda beda untuk mewujudkan impian anaknya atau apapun
itu selama untuk anak.
Walaupun pada akhirnya 4 bulan
setelah aku kerja, aku ditelpon sama temennya papa ini, aku tetep memutuskan
untuk menolak tawaran kerja di sana karena aku udah ngga di Malang lagi.
Back then..
Faktor kebutuhan, papa waktu itu
masih belum 38 tahun. Masih banyak keinginannya yang mau diwujudin, masih
banyak kebutuhan yang mau diambil, so I let him to take place..
Bisa dikatakan papa selama 18
tahun ngalah sama aku, dan sekarang waktunya aku ngalah sama beliau. Tapi ngga
bisa pure dikatakan mengalah juga ya, karena aku dan beliau punya concern
yang beda, goalnya beda. Semakin aku dewasa, melihat dekatnya jarak
usia, aku jadi melihat beliau sebagai sosok teman, saingan, lawan, dan contoh
yang cara hidupnya bisa aku tiru atau bisa aku abaikan.
Well, karena pertimbangan
dan kebutuhan tadi, aku memutuskan untuk melamar semua lowongan kerja yang ada
dimanapun! Media apapun! Mulai dari internet, koran, grup sekolah,
semuanya aku coba masukin. Bener bener aku usaha karena aku tahu kalau aku
ngandelin papa, aku ngga akan berkembang. Alhasil setelah 3 bulan di rumah, gap
year ku di Malang harus berakhir. Karena akhir Juli 2017 aku pindah ke
Denpasar.
Hidup sendiri, bekerja, cari
pengalaman di luar rumah, nemuin kesulitan kesenengan dan lain lain udah aku
rasain lebih dari 2 tahun. Dan masih akan terus berlanjut selama aku belum mau
pergi dari Denpasar.
Bisa dibilang karena garis
keturunanku memang perantau semua, canggah dari ibu, kakek dari papa, bahkan
papa sendiri juga perantau, ngga heran kalau akhirnya aku bisa nekat ke Bali
sendiri. Umurku waktu itu belum genap 18 tahun, E-KTP ku belum jadi, dan aku
memutuskan hidup di Denpasar sendiri, berbaur sama local people atau perantau
yang lebih dulu mendiami Bali. Aku yakin diluaran sana banyak orang tua yang
ngga siap untuk ngelepasin anaknya merantau atau jauh dari mereka. Dan belum
banyak anak cewe yang berani ambil keputusan mengasingkan diri dari lingkungan
lamanya. Kalaupun ada, mentalnya udah mental juara dan hatinya sudah sangat
kebal ngadepin dunia yang katanya kejam.
Pekerjaan pertamaku adalah jual
bahan stiker di salah satu percetakan terbesar di Denpasar. Kliennya banyak
mulai dari freelancer advertising, user langsung seperti pihak hotel, bank,
sekolah, perusahaan yang butuh jasa advertising, bahkan bule pun banyak
ke sana. Sejujurnya bangga sih pernah kerja di sana.
Berkali kali aku pindah bagian
karena sistem di sana memang semua karyawan sama, semua mesin bisa dipelajari
dan ngga perlu pengalaman. Beruntungnya aku karena fresh graduate
dan langsung kerja di perusahaan yang santai macem percetakan ini. Karena kebutuhan
cutting stiker, selama 90 hari aku kerja di bagian itu. Karena kebutuhan
tenaga setting desain, hampir 2,5 bulan aku di bagian desain. Sisanya aku
staff produksi untuk mesin UV flatbed sampai akhir.
Sejujurnya bekerja di sana aku
sangat menikmati karena kerja santai dan sistemnya friendly baik ke
sesama staff atau ke customer. Masih bisa main HP di jam kerja,
walaupun di bulan bulan terakhir peraturan makin diperketat dan akses internet
maupun hiburan dibatasi. Menurut aku itu bukan masalah selama aku masih digaji
dan ngga ada masalah pekerjaan. Siapa sih yang ngga mau kerja senyantai itu? Tapi
meskipun santai dan cenderung asyik, tetep
semua kerjaan harus selesai karena percetakan itu jual jasa. Sekali dapat
komplain, sama saja rezeki menghilang.
Dulu aku sering dapat pertanyaan “kenapa
ngga kerja di percetakan Malang aja, kan banyak..” dsb.
Aku ucapkan terima kasih pada
semua yang sudah tanya gitu ke aku. Jawabannya, aku sendiri pun tak tahu.. haha..Lebih
tepatnya ini adalah kuasa Tuhan sekalian alam. Allahku. As I told u di
atas bahwa aku udah ngelamar ke banyak tempat, kenyataannya hanya 2-5 berkasku
yang lanjut bahkan bisa sampai diterima di percetakan Bali. Beneran aku udah ngelamar
dan tes juga ke percetakan Malang karena aku merasa ini masih relate
sama jurusanku. Tapi aku menyadari bahwa di Malang bukan tempatku cari duit. Nahlo.
Susah kan.
Kemudian aku tanya ke temen temen,
berapa gaji mereka, mereka sebutin nominal dan aku dalam hati bersyukur karena gajiku
jauh diatas mereka. Bahkan termasuk percetakan di Malang aku juga tau gajinya
berapa. Dari situ aku bertekad bahwa aku harus lebih baik karena udah ditolak
sama mereka perusahaan di Malang ini.
Back to reality, jam 8
pagi-5 sore adalah waktu bekerja yang nyantai, jam 6 sore-9 malam adalah waktu
kuliah yang pendek. Gimana temen temen? Udah ada yang iri??
Beberapa temen yang aku ketahui
kuliah ekstensi bisa kuliah sampai jam 11 malam, baik kampus negeri maupun
swasta. Sedangkan di aku, jarang bisa pulang jam 9 lewat, paliiiing sering
pulang jam setengah 9. How lucky I am...
Next topic, gaji.
Gimana sih aku menyisihkan rupiah
sehingga bisa survive walaupun dengan gaji UMK “lebih dikit”?
Baiklah aku akan beritahu hitung
hitungannya.
Karena aku orang yang well-organized,
setiap terima gaji aku langsung buat list barang prioritas dan barang
non prioritas. Prioritas seperti biasa, kost-kebutuhan makan-tabungan mama-dana
darurat perbulan. Ini memakan lebih dari 3/5 gajiku. Sisanya hampir 2/5 aku
masukkan dompet kuliah. Dompet ini aku buka dan baru aku ambil setelah setahun
atau saat udah menyentuh nominal uang kuliah tahunanku. Kalau ada sisa, bisa
buat belanja sebagai bentuk nyenengin diri karena udah usaha keras menahan rasa
ingin membeli perintilan cewek. Hahaha..
Temen temen yang tahu kegiatanku
di instastory pasti heran kenapa aku bisa jalan jalan, makan enak, atau
kegiatan yang ngga mungkin aku lakuin kalau aku di Malang. Percayalah aku
dapatin itu secara gratis.. duluuu... Sekarang mah udah engga. Semenjak kuliah,
aku jadi ngga punya waktu sebanyak dulu, trust me guys. Bener bener
pinginnya rebahan terus kalau ada waktu libur.
1 tahun pertama kerja, aku punya
tabungan dan berkat bisikan sekeliling aku memutuskan untuk kuliah. Aku usaha
sendiri semuanya, urusan berkas aku minta tolong ibu yang emang paling bisa
diandalin urusan beginian. Perjalanan yang panjang dan ngeluarin banyak tenaga
dan uang, sampai akhirnya bisa kuliah di salah satu sekolah tinggi di Denpasar.
Jam kuliah yang fleksibel, temen hampir satu kelas yang juga pekerja, dan
materi yang awam banget bikin aku masih confident sampai saat ini kalau
aku bisa lulus dengan IP bagus.
Sampai hari ini aku udah semester
3 mahasiswi prodi manajemen dengan konsentrasi sumber daya manusia. Kenapa manajemen?
Kenapa SDM? Pertanyaan itu sering aku dapat ketika awal kuliah dan ditanyain
sama orang orang yang kenal aku. Jawabannya, karena hanya itu jurusan yang available.
Hahaha, make sense ga sih?
Dulu hampir masuk jurusan Sastra
Inggris tapi karena ada suatu kendala, aku ngga bisa meneruskan ke sana. Itu sebabnya
aku bilang perjuangan untuk kuliah bener bener ngga gampang dan menguras
tenaga. I’m proud enough karena bisa bertahan sampai hari ini dan
rasanya sayang banget kalau aku putus di tengah jalan. Ngga papa gajiku segitu
segitu aja, ngga papa aku ngga punya banyak waktu main, ngga masalah aku harus
capek mimisan terus karena aku udah memulainya dengan pengorbanan. Relate
kan? Nanti aku buat post gimana aku ngelewatin masa awal perkuliahanku
dan stigmaku tentang berkuliah. Next article yang pasti ya, karena di sini
aku hanya akan bahas gap year ku.
2 tahun 1 bulan aku memutuskan untuk
resign karena suatu alasan. Keputusan yang pada waktu itu dibilang
gegabah sih, tapi pada akhirnya memang aku berani mengambil langkah itu karena
memang harus.
Sebulan aku career break
atau “gap year untuk orang dewasa” dan selanjutnya training
di satu satunya perusahaan counting data di Bali. Yeeaayy keren. Bahasanya..
Kerjanya? Menghitung jumlah
kendaraan, jumlah pejalan kaki, jumlah pengguna sepeda, atau plat nomor
kendaraan. Simple kan? Iya simple kelihatannya, padahal ruwet banget! But I
start to enjoy my training time yang dijadwalkan sampai Desember mendatang
(kalau aku lulus tahap 1, 2, dan 3 yaa).
So my reader yang baik
hati, kalau mau mendoakan, bisa lah ya doain aku supaya bisa melewati case
by case trainingku karena sejujurnya this job is typically
me gitu loh..
Oke ini udah out of
topic banget sih, dan karena aku udah jelasin how I passed
my gap year di atas, aku memutuskan untuk cut
sampai di sini ceritaku mengenai gap year. Next article
aku bakalan bahas kenapa aku berkuliah meskipun aku udah bekerja (my opinion
is not yours).
See you teman teman!
Komentar
Posting Komentar