YANG HILANG ITU TIDAK BENAR BENAR HILANG
Tahun ini adalah tahun
terakhir saya dibangku sekolah. Dan itu artinya, tahun ini pula giliran angkatan
2017 diberi kesempatan ke Bali. Entah mau disebut apa, rekreasi.. jelas bukan,
liburan.. juga rasanya tidak mungkin, study wisata.. malah rasanya aneh. Apapun
itu, yang jelas rombongan SMK PGRI 3 Malang (seperti biasa) melakukan
perjalanan (singkat) ke Bali.
Eits.. disini saya tidak akan
membahas bagaimana perjalanan kami ke Bali, sebab ya itu itu saja sih yang
dilalui di jalan dan lokasi. Nah terus apa yang akan dibahas? Ininih.
Hari itu kami berangkat seusai
sholat Dhuhur, dikarenakan area sekolah digunakan untuk siswa SMP UNBK dan ngga
mungkin banget untuk digangguin, maka seluruh siswa/i dikumpulkan di area
masjid sekolah. Agendanya, nunggu sholat Dhuhur aja sih, jadi ya bener-bener
dimanfaatin buat sholat apapun sholatnya.
Kebetulan pas wudhu dan sholat,
ketemu sama temen se-pkl panggil saja Sayang. Nah si Sayang ini temen gesrek,
temen galau, temen jomblo, temen main, temen curhat, temen apalah apalah selama
di Kediri. Kebetulan waktu itu saya dan Sayang busnya jejeran dan area kumpulnya
di ruangan yang sama, jadi nyantailah.
Banyak hal yang kami omongin,
mulai dari flashback sampai rencana
masa depan. Dari sekian banyak perbincangan yang kami lakukan, ada satu yang
cukup menguras otak untuk mikir. Sebab ini bukan bahasan yang ringan seperti
sebelumnya.
NOTHING TO LOSE, atau kalau
diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah ‘Tak Akan Ada Yang Hilang’. Tuh,
baca translate nya aja berat banget kan maknanya. Kalau inget kalimat itu,
semua kejadian yang mengingatkan tentang Kediri jadi terputar secara otomatis
dikepala ini. How I struggle to be who I
am, How I try to survive when I stay away from people, dan lain-lain.
Beberapa
memori mungkin luput, tapi percayalah bahwa dengan mendengar kata itu, seketika
itu pula ingat who has spoken this words.
Pembimbing. Benar. Sedikit banyaknya apa yang kami lalui, itu awalnya adalah
sesuatu yang sudah disiapkan. Walaupun pada akhirnya harus berakhir tidak
sesuai rencana, sebab mungkin ada pelanggaran didalamnya.
‘Apa yang sudah terjadi, apa kamu sudah ikhlas dengan itu?' haha,
Sayang, pertanyaanmu kali ini membuat saya terdiam cukup lama. Jujur saja,
untuk menjawab pertanyaan itu rasanya beraaaatt sekali. Di muka bumi ini,
banyak manusia. Tapi yang punya keikhlasan berlebih, bisa dihitung dengan
bantuan jari manusia. Agak berlebihan memang. Tapi itu yang bisa menggambarkan
betapa banyaknya manusia yang harus belajar untuk ikhlas seikhlas ikhlasnya.
Mendapat
pertanyaan seperti itu, saya berusaha berunding dengan hati dan logika apa
benar seutuhnya sudah ikhlas dan menerima itu. Sepanjang berunding, tak saya temui
jawaban ‘iya’ dengan pasti. Selalu ada pemberat disetiap sisi. Mungkin Sayang
menunggu saya lama untuk jawaban kali ini. Hingga kemudian saya beranikan diri
untuk menjawab ‘Apa yang sudah terjadi,
aku percaya itu sudah digariskan’.
Perfect! Itu jawaban terngambang yang pernah ada. Sebab inti dari
jawaban itu adalah “Apapun itu, saya belum mengikhlaskan. Tapi saya sedang berusaha
untuk ikhlas sebab saya tahu apapun yang terjadi di muka bumi, semua atas
perhatian Tuhan.” Tidak ada satupun yang terlewat, dan bahkan meskipun manusia
memiliki pilihan lagi untuk mengikuti jalan setan atau jalan yang benar, semua
sudah di bawah perhatian Tuhan. Tinggal selanjutnya bagaimana cara Tuhan
menegur umat-Nya jika bersalah dan memberi ujian tambahan bila umat-Nya dijalan
yang benar.
Saya ingat sekali gimana
pembimbing nunjukin contoh gamblang yang masih nancep diotak sampai detik ini.
Begini:
Kalau mau ngasih pacar kamu HP, bagaimanapun juga itu sudah jadi milik
dia. Kalaupun kalian putus, kamu ngga bisa seenak hati minta HP itu. Dan ketika
HP itu rusak ditangan dia, yasudah, nothing to lose. Ikhlaskan.
Sebenarnya hal yang mendasar dari
nothing to lose adalah bagaimana sesuatu yang kita miliki telah hilang tapi
kita menganggap bahwa itu tidak benar benar hilang, tidak akan hilang. Entah seperti
apa bahasa yang tepat untuk mengartikan makna nothing to lose, tapi nothing to lose
lebih seperti “Apapun itu, komitmenkan pada diri sendiri bahwa semua yang pergi
tidak perlu disesali, tidak perlu ditangisi, hadapi dengan tulus tapi dengan
tidak menganggap yang hilang itu telah hilang.”
Obrolan dengan Sayang terpaksa
harus ditutup saat adzan berkumandang. Setelah itu kami sholat sunnah dan
fardhu kemudian kembali ke tempat ruang berkumpul. Dari semua hal yang terjadi,
saya memetik kembali pelajaran yang sempat saya lupakan. Sabar dan ikhlas adalah satu paket, tanpa salah satunya maka yang lain
akan pincang. Untuk itu berusahalah tetap ikhlas atas apapun yang terjadi, dan
bersabar untuk menunggu sesuatu entah seperti apa wujudnya. Mau itu teguran
karena tindakan kita, atau kebahagiaan kecil buah keikhlasan kita.
Jangan lupakan bahwa apapun yang
ada di muka bumi ini, semua atas kendali-Nya. Penyesalan memang selalu berada
diakhir, tapi ketahuilah, dibanding menyesal, lebih baik tetap bersyukur atas
apa yang masih bersama kita dan atas apa yang terjadi pada kita. Memang tidak
banyak manusia yang akhirnya bisa menjadikan ‘nothing to lose’ sebagai cara hidup, tapi minimal, berhenti
menyesal atas apa yang sudah hilang dan tetap bersyukur atas apa yang tetap ada
pada kita.
Pembahasan ini akhirnya sempat
terkubur sementara ketika perjalanan ke Bali. Berjalan sebentar, menikmati
buatan Tuhan sepanjang perjalanan membuat saya semakin menyadari bahwa,
dibanding yang telah hilang, banyak hal yang masih harus saya lakukan dan yang
masih saya miliki. Untuk apa bersusah hati mengingat semua yang telah hilang?
Kabar baik kemudian menyusul
dengan dikeluarkannya SKHU Sekolah yang menyatakan saya telah lulus. Ini menguatkan
saya bahwa masih benar benar banyak tugas yang harus saya tempuh dan jalani. Sebagai
lanjutan hidup saya sebagai manusia dan sebagai upaya pertanggungjawaban kepada
Tuhan.
Terima kasih untuk Sayang, (gue
bikin ini buat lu khusus) yang sudah mengingatkan kembali tentang semua masa
masa itu. Entah deh saya nyebutnya kelam atau pembelajaran atau jahiliyah atau
apalah itu. Yang jelas masa lalu yang baik maupun buruk membuat saya tahu bagaimana saya akan
menjalani masa depan saya, dan itu yang membentuk saya menjadi seperti ini. Bingung
juga gimana nyebutnya, entah itu adalah teguran atau hukuman Tuhan,
tapi yang saya tahu, semua hal dalam hidup selalu ada positifnya.
Tuhan selalu punya cara terbaik (bagi-Nya)
untuk membimbing, mengajari, menuntun, dan menjaga umat-Nya. Percayalah. Seeyou
<3

Pembahasan yang menarik, tapi kayaknya tulisan ini kurang begitu menjerumus ke masalahnya ya hehe. Masa lalu baik atau buruk yang gimana dulu nih? ceritain juga dong! haha
BalasHapusMampir juga ya! diansaurs.blogspot.com