Kita Saat Ini Adalah Apa Yang Kita Perjuangkan



Jam berganti, hari bergulir, suasana berubah, bahkan objek kehidupan pun perlahan berubah. Kita bisa menyadari orang berubah, musim berganti bahkan apapun terasa berbeda. Tetapi sedikit dari kita bisa merasakan perubahan dalam diri kita. Kita hari ini pasti berbeda dengan kita hari kemarin, bahkan kita malam ini pasti berbeda dengan kita pagi tadi. Itu lah perguliran dalam hidup. Yang sama hanya 1, Tuhan. Tuhan tetap mengawasi kita, Tuhan tetap mencintai kita, dan Tuhan tetap menunggu pengampunan kita. Hanya itu yang tidak berubah.

Terlalu luas untuk membahas bagaimana kita hari ini, kita saat ini, atau kita yang sekarang. Bukan karena perubahan atau perbedaan itu, tapi karena kita sendiri. Kita adalah apa yang kita inginkan, perjuangkan, dan butuhkan.

Baru baru ini saya menyadari, saya merasakan kejenuhan dan perubahan drastis dalam hidup saya. Banyak hal yang mendasarinya, dan saya tahu mengapa. Kejenuhan karena kegiatan yang terus berulang, sedangkan pribadi saya sebenarnya menolak kenyataan akan kehidupan saya. Akhirnya saya mengalah atas keadaan dan saya menyadari keadaan ini menguasai saya. Disini saya mengerti, yang tetap adalah, Tuhan sedang dan tetap mengawasi saya sambil memikirkan apa formula yang tepat untuk mengatasi hidup saya. Untuk bagian ini, saya percayakan kepada Tuhan. Biar Dia-lah yang mengatur secara perlahan bagaimana saya nantinya.

Bagaimana saya harus menghadapi kekecewaan karena beberapa dari mereka menganggap saya polos dan baik, sehingga saya bisa mereka kendalikan. Ada juga yang menganggap saya bodoh karena diamnya saya, ada yang menganggap saya aneh karena beberapa waktu saya tidak ingin didekati. Yang lebih tau diri saya adalah Tuhan, dan saya yang masih mencari jati diri ini harus terus mengobrak abrik bagaimana bagusnya hidup saya. Tuhan masih diam karena saya bilang saya belum menyerah.

Hingga suatu ketika, tubuh saya menyerah. Hidup sendiri dan bertahan sendiri membuat saya jadi super peduli dengan tubuh saya. Sakit yang saya rasakan membuat saya ingat dulu waktu kecil pernah sakit parah dan hidup saya lemah. Saya memang tidak seperti anak biasanya, itu yang kemudian saya sadari. Saya kembali diingatkan bagaimana keluarga saya dan beberapa saudara bingung dengan kondisi saya. Orang tua mengusahakan yang terbaik selagi memang waktu itu harus bertahan hidup juga.

Teguran Tuhan memang nikmat rasanya, buktinya setelah saya sakit, saya jadi mempertimbangkan beberapa hal yang memang tidak bisa saya lakukan. Memang berat di awal, saya melepaskan beberapa relasi yang merugikan saya, melepaskan hal hal yang belum penting untuk saya, melepaskan pikiran negatif dari orang orang yang memberi sentimen negatif kepada saya, dan mulai hidup sedikit egois. Baru satu bulan tapi rasanya nikmat, saya jadi lebih menghargai waktu saya.

Melepaskan relasi artinya membiarkan diri saya (secara tidak langsung) dihujat dengan kata-kata yang sedikit menyeramkan. Tapi kemudian saya menyadari, hidup itu tentang bagaimana pertemuan dan perpisahan saling bergulir. Bagaimana melepaskan dan meraih apa sudah semestinya. Praktik memang susah, dan hebatnya saya masih maju mundur untuk melakukan sesuatu. Saya masih ragu untuk melakukan hal yang sudah saya pikirkan, beruntungnya saya masih punya orang orang yang memberi saya masukan atas kejadian demi kejadian dalam hidup saya. Beruntungnya saya tidak selalu merasa sendiri saat saya memang membutuhkan uluran. Pada akhirnya relasi relasi yang sebelumnya ada dan kemudian saya lepas, menemui titik temu. Itu bukan sesuatu yang salah.

Beberapa hari setelah kondisi saya membaik, saya memilih untuk menikmati usia dan waktu saya. Beberapa bulan lagi saya akan kepala 2 dan sudah ada beberapa yang tergambar dipikiran saya mengenai apa yang akan saya lakukan dan rencana apa yang saya persiapkan. Saya memilih waktu saya untuk diri sendiri dan kegiatan non-komersil saya, karena saya menyadari, hidup bukan sekedar materi dan tanggung jawab. Hidup juga tentang memberi-menerima, yang jadinya kalau saya jabarkan disini akan melenceng jauh dari niat awal saya cerita.

Not so....

Jadi, maksud saya, perjuangkan apa yang layak untuk diri kita sendiri, lepaskan yang menurut kita tidak baik (walaupun tidak selalu yang menurut kita buruk akan selamanya buruk), dan menjadi lebih baik setelah mendapat teguran. Kita tidak pernah bisa menebak dengan siapa kita akan baik, dengan siapa kita akan bertabrakan, dengan siapa kita akan bermusuhan. Tetapi minimal, kita tahu Tuhan sudah menyiapkan rencana terbaiknya untuk kita. Yang membenci, yang memusuhi, yang membicarakan buruknya kita, itu tidak ada apa apanya dibanding rencana Tuhan. Sangat tidak ada apa apanya. Melepaskan relasi yang buruk itu tidak selamanya dosa. Menjadi egois itu tidak selamanya buruk. Dan memperjuangkan sesuatu yang baik itu tidak selamanya salah.

Setidaknya, itu yang bisa kita lakukan dalam hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

YANG HILANG ITU TIDAK BENAR BENAR HILANG

Cerita Pendek Pengalaman Pribadi

UNDEFINED TITLE