STORY IN BOJONEGORO PART 3



Keesokan harinya, tanggal 28 Oktober 2014. Kami bertanding untuk round ketiga. Round yang akan menentukan apakah kami bisa masuk octofinal atau tidak.


Pagi, sekitar pukul setengah 6 kami tim debat baik Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris makan pagi bersama biar ngga lemes selama pertandingan. Begitu udah selesai makan pagi, gue yang notabene mandi belakangan, akhirnya baru pakai sepatu pas di dalem mobil. Dan FYI, dihari kedua lomba ada pasukan dari jurusan Elektro sama Welding (gue lupa yang mana aja) yang ngikut. Jadinya, can you imagine? Berapa banyak orang yang masuk di dalam 1 mobil? Ah sudahlah.. Ngga perlu dibayangin.

Bagian di dalem mobil diskip aja kali yah? Biar cepet :v

Pas udah nganterin temen-temen yang lomba di SMKN 2 Bojonegoro, kami yang sebelumnya lomba di SMKN 4 Bojonegoro pun OTW ke sana lagi. Begitu sampai, kami langsung masuk ke aula.

SMK PGRI 3 bertanding untuk 2nd round yang briefingnya dimulai pukul 10.00. Motion debatnya adalah “The House Would Banned Horror Reality Show” yang artinya “Pemerintah/ tuan rumah Akan Melarang Adanya Realiti Show Bertema Horor” dan kami sebagai tim yang tidak setuju dengan statement itu. Lawan sih, cukup OK, SMKN 4 Probolinggo. Setelah briefing selama 10 menit, kami mulai bikin argument debat selama 30 menit (saja). Agak puyeng sih disini karena emang kami bertiga (Aul-Ayu-April) tuh jarang nonton TV. Jadi kalau dibanned pun ngga ada pengaruhnya buat kehidupan kita. Yakan?

Setelah pertandingan berakhir, juri nentuin kalau tim SMK PGRI 3 menang atas SMKN 4 Probolinggo. Akhirnya, kami punya 2 dari 3 poin. Kenapa kami lega? Karena base of the announcement, tim yang masuk ke babak octofinal adalah tim yang menang berturut-turut 3 kali dan menang 2 kali berturut-turut untuk tim yang beruntung, maka dari itu, kami menunggu keajaiban datang untuk octofinal.

Mungkin Allah ngasih kepercayaan kami sampai disini dulu, dengan semua usaha yang ada, kami harus puas diurutan 33 dari 90 sekolah. Dengan poin 256 dan margin total 4,5 serta VP 2. Seenggaknya, ini lebih baik dari tahun lalu (yang katanya) SMK PGRI 3 Malang masuk ke daftar degradasi. Gue merasakan makna sesungguhnya dari “Experience is the best teacher”. Tanpa pengalaman, gue ngga akan tahu betapa jauh lebih kerennya mereka melebihi gue. Betapa gue bisa bertahan dengan menyaingi 57 sekolah lain. Gue berterima kasih kepada Mr. Dwi dan Mr. Bin yang udah nemuin bakat speaking gue. Berterima kasih kepada Bu Nita yang udah nyebarin fakta kalau gue salah satu peserta tim debat SMK ke temen-temen sekelas gue, MM A. Tepatnya hari Sabtu diakhir Agustus 2014 lalu. Jujur, niatnya tuh bikin surprise buat temen-temen. Caranya? Ya dengan menutup-nutupi fakta itu. Tapi akhirnya, ketahuan juga deh.

Begitu sampai penginapan, gue nunggu koordinasi sampai maghrib, sebenernya feeling gue kuat banget disini, yang mengatakan kalau gue akan pulang besoknya. Begitu koordinasi, ketua tim bilang kalau tim English Debate harus pulang duluan DENGAN ALASAN tempat tidur ngga cukup. Gue tau ini cuma alasan, tapi kami satu tim terima. Malah pendamping debat bahasa Indonesia ngga terima. Akhirnya cek-cok masih berlanjut antara pendamping debat bahasa Indonesia, kami satu tim, dan ketua pelaksana. Diantara kami bertiga (baca: Aul-Ayu-April) yang paling berani ngomong tuh gue. Gue complain-in semua hal yang ngga sesuai dengan realisasinya. Kebanyakan ngeles sih beliau, walaupun dari sekian banyak argumennya ada 1 yang bener, tapi masih lebih kuat argument gue~

Pertama, ketua tim awalnya bilang “Berangkat bareng, pulang bareng” tapi nyatanya kami pulang duluan dan masih banyak complain yang lain. Umpama nih, gue sama ketua tim lagi lomba debat, sebenernya gue yang menang. Cuma, posisinya karena gue yang paling kecil, masih junior plus plus kelas 10 lagi, maka gue mengalah. Lagian juga ga baik kalau ngajak adu mulut sama guru, kan gue cuma murid. Kalimat terakhir gue malam itu ke beliau adalah “Saya cuma kasih pendapat dan unek-unek saya kok, dan mungkin ini bisa dijadikan koreksi buat LKS tahun depan. Semoga lebih baik”. Setelah itu, gue langsung balik ke kamar. Sumpah ya, gue kaget sama reaksi temen-temen yang lain, Mr. Dwi, April, Ayu, semua kaget sama apa yang gue lakuin barusan.

Mereka bilang gue jujur tapi ngga polos-lah, gue keren-lah, gue berani-lah, bahkan gue dibilang masih lugu. Hmm, iyasih, katanya LKS tahun tahun sebelumnya belum pernah ada siswa macem gue, dan mungkin gue yang paling lugu dengan berani ngomong gitu ke ketua tim. Yahh, lumayanlah, sampai sekarang bahkan ketua tim masih agak gaenak gitu kalau ketemu gue. Gue musti gimana? Ya gue baikin aja tuh orang, kalau ngeliatin, ya gue lihatin balik, habis itu gue nyapa. Pokonya, lucu deh, orang kaya gitu bisa diluluhin sama anak kelas 10 yang masih ingusan. Bahkan gue sempet berpikir gini “Apa orang itu takut ya, sama gue? Kok sampai segitunya.
H.A.H.A..

Bahkan, guru-guru pendamping yang bertugas mendampingi peserta lomba waktu itu aja selalu inget muka gue. Dari sekitar 13 guru yang ikut, ada 12 guru inget muka gue. Termasuk jurusan TI sih, apa karena kontroversi gue dan 2 senior gue nangis ya?

Ah apapun alasannya, gue ngga peduli. Yang gue peduliin sekarang adalah ucapan Pak Arif yang sekarang jadi guru matematika gue. Gini percakapannya:
P: Kamu kelas berapa?
A: Kelas 10 pak. /sambil nangis sesegukan waktu itu/
P: Oh ngga papa kalo gitu, tahun depan (tahun ini) kamu jadi leadernya.
A: Iya pak.

Dan pas pertama guru itu masuk ruangan kelas gue, beliau bilang gini:
P: Kamu, namanya siapa, saya lupa.
A: Aul pak.
P: Oh, iyaiya. Tahun depan kamu leadernya.
A: Tahun ini pak?
P: Oiya, udah 2015 ya, iya tahun ini.
A: Iya pak. Aamiin..

Gue ngebayangin, tahun ini, gue ngebimbing adek kelas? Tahun lalu aja gue dianggap badung bin bandel kalo dibimbing senior gara-gara tiap ngerjain debat topiknya selalu ngeyel~_~ Gimana gue ngebimbing junior gue :3 Ohtidak >_<

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

YANG HILANG ITU TIDAK BENAR BENAR HILANG

Cerita Pendek Pengalaman Pribadi

UNDEFINED TITLE