Cerpen Pertama
English,
Love, and You
“Sean, cepat bangun dan turun ke bawah! Kau bisa
terlambat lagi jika terus-menerus menuruti bunga tidurmu, sayang!” Teriak mama
dari ruang makan. Menengadahkan wajahnya ke atas sambil meneriakkan kata-kata
andalannya diwaktu pagi.
Benar-benar pagi yang indah bagi hampir semua orang,
terkecuali bagi Sean. Remaja berusia 14 tahun yang duduk di bangku SMP kelas 3. SMP Nusa Bangsa.
Sekolah yang cukup favorite walaupun merupakan sekolah swasta namun dihuni oleh
banyak kelompok-kelompok elit, sedikit bangsawan, dan cukup banyak anak
konglomerat. Sean dapat dikatakan sebagai salah satu murid berprestasi,
terbukti dengan berbagai penghargaan yang ia raih seperti juara 2 pidato bahasa
Inggris tingkat nasional, juara 1 debat Inggris tingkat provinsi, dan baru-baru
ini ia berhasil meraih predikat The Best Student dalam bidang bahasa Inggris di
wilayah kota tempat tinggalnya.
“Wait mom!” Dengan cepat, Sean mengerahkan
kemampuannya hanya mandi selama 10 detik yang merupakan rekor mandi tercepatnya
lalu berganti seragam batik merah bata dengan rok cokelatnya, ini Sabtu. Semua
murid diwajibkan mengenakan batik bebas. Sekolah Sean memang berbeda dari
sekolah lain. Itulah sebab mengapa mamanya memasukkan Sean masuk ke SMP Nusa
Bangsa, cukup ketat memang. Berbagai peraturan kecilpun tak luput dari hukuman.
“Cepat turun, makan, dan berangkat!” Bentak mamanya
sekali lagi.
“Aku nanti saja makannya. Pa, ayo kita berangkat.”
Sahut Sean sambil menyambar tas hitamnya.
+++
“Sean!” Ucap Mr. Anto ketika mengetahui Sean sedang
berdiri di depan pintu.
“Ye Mr.”
“Why you?”
“Woke up lately in this morning.” Seketika riuh-gemuruh hadir di kelas Sean.
“Woke up lately in this morning.” Seketika riuh-gemuruh hadir di kelas Sean.
“Sit down in your chair and don’t late again.” Ujar
Pak Anto. Cepat-cepat Sean duduk di tempatnya.
“Ok students, morning. Put your paper on table and
write down your full name on them. Now, we learn about recount text. Do you
know ‘bout recount text?” Kata Mr. Anto.
“Don’t you often to listen the word of recount? Do
you know about recount? Raise your hands up please.” Kata Pak Anto lagi ketika
tak ada satu murid pun yang menjawab pertanyaannya.
“Sean, please” Tambah Pak Anto.
“What? Am I?”
“Yes sure!”
“Ok, recount is a text to describe about experience
or activity’s people in past time. For example my holiday, and other.” Jawab
Sean penuh keyakinan.
“Good, another please?” Kata Pak Anto, namun tak ada
yang mengangkat tangannya ke atas.
“Ok, good thank you Sean. I’ll give you one star in
your paper.”
“Thank you Mr. Anto.”
“Boys and Girls, Do you have any experience?”
“Oh, my! It’s a stupid question Mr.” Jawab Galang
dengan lancangnya sambil berdiri menunjuk meja.
“Yes, I know. But do you have Galang? I know that.
So, tell us please!”
Kata-kata Mr. Anto bagaikan cambukan bagi Galang.
Bisa jadi itu hukuman bagi anak lancang seperti Galang.
“Maybe Galang haven’t any experience in life.” Tukas
Adrian dengan wajah innocent-nya. Seketika gaduh terdengar menggema di ruang
kelas.
“Ok sit down please Galang. I think that Adrian’s
say is true? Right?” Ejek Mr. Anto pada Galang. Membuat wajah Galang menjadi
merah padam karena malu ditertawai murid 1 kelas.
+++
1 jam kemudian..
Saatnya,
istirahat.
It’s
time to have break.
Bunyi bel istirahat telah diperdengarkan. Dengan
riuhnya anak-anak SMP Nusa Bangsa keluar kelas menuju kantin, tak terkecuali
Sean. Sean memang selalu sendiri dari kelas 1 SMP. Ia tidak terlalu
mementingkan teman ataupun pacar. Baginya, meraih juara umum UN tahun pelajarannya-lah
yang paling dipentingkan. Sean memang terlihat sangat cuek kepada siapa saja,
bahkan dari ekspresi dan bentuk wajahnya sudah terlihat bahwa Sean tidak
terlalu senang bahkan tidak tertarik untuk hal-hal yang menurutnya tidak
penting, termasuk 2 itu tadi.
Sean bahkan tidak tahu bahwa ada 4 anak laki-laki di
kelasnya yang suka kepadanya, terlalu cuek bukan? Meski begitu, banyak yang
berkata “Begitu kamu dekat dengannya, kamu tidak akan mau menjauh dari dia. Dia
itu seperti moodboster, mungkin awalnya kita merasa dia cuek, tapi sebenarnya
dia sangat friendly.” Kurang lebih seperti itu.
“Se, mau makan apa?” Sapa Tari yang mengantri
dibelakang Sean. Salah satu budaya SMP Nusa Bangsa adalah antri. Antri saat apa
saja. Saat membeli, saat berwudhu, saat pemeriksaan kebersihan, juga saat
pemeriksaan atribut. Antri memang kata yang mudah bahkan sangat simple untuk
diucapkan, namun tidak banyak yang berhasil mewujudkan semboyan “antri” ini. Ketat memang tapi covernya sangat simple.
Adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan semboyan “antri” di SMP Nusa
Bangsa.
“Makan lotek mungkin. Kamu?” Jawab Sean.
“Hm, sama juga deh. Yuk barengan sama aku. Ada
temen-temen yang lain juga tuh.”
“Sip”
+++
Saatnya
jam ke tujuh dimulai.
It’s
time to begin the seventh lesson.
Kini bunyi bel pelajaran ke 7 telah diperdengarkan,
siswa-siswi sudah memasuki kelasnya masing-masing. Sean dan Tari masuk ke kelas
Matematika, pelajaran untuk kelas IX-1. Kelas murid unggulan yang terdiri dari
25 siswa terbaik satu sekolah.
“Baik anak-anak, sekarang kalian akan memasuki
pelajaran baru tentang Statistika. Namun sebelumnya, ibu akan mengumumkan bahwa
di kelas IX-1, kita kedatangan siswa baru pindahan dari Surabaya. Nak, silahkan
maju ke depan kelas.” Ujar Bu Indah, guru matematika pling baik yang itu,
menurut Sean.
“Halo teman-teman, nama saya Aurian. Bisa dipanggil
Ian, saya pindahan dari Surabaya. Salam kenal semuanya.”
“Salam kenaaaal” Jawab teman-teman Sean serentak,
kecuali Sean.
“Kenapa kamu baru masuk dipelajaran akhir Ian?”
Tanya Bu Indah.
“Saya baru saja tiba dari bandara Abdurrahman Saleh
dan langsung ke sini menggunakan seragam sekolah ini.” Jawab Ian.
“Se, gila! Anak siapa tuh, ganteng banget. Manis
lagi, kaya oppa Ren member Nuest! Bedanya kalo Ian manis tapi tetep kelihatan
cowonya, kalo oppa Ren kelihatan cantik.” Celetuk Putri ditelinga Sean, siswi
paling polos yang duduk disebelah kanan Sean.
“Putri, apa kamu bisa diam?” Omel Bu Indah. Sean
terlihat malas menggubrisnya.
“Hm, iya bu. Maaf”
Jika pandangan siswi-siswi di kelas sedang teruju
pada Ian, justru Sean sedang asik membaca notebook dibangkunya, ini SMP Nusa
Bangsa. Tempat tersedianya barang-barang canggih, mengerjakan soal bukan dari
buku melainkan secara online. Hanya pada pelajaran tertentu yang menggunakan
kertas atau buku tulis, itupun hanya 1 buku saja.
“Ian, silahkan duduk di bangku kosong itu.” Kata Bu
Indah sambil menunjuk tempat duduk kosong di sebelah kiri seberang tempat duduk
Sean. Dengan sekali anggukan, Ian langsung duduk di tempat yang ditunjuk tadi.
“Baik anak-anak, pelajaran matematika bab baru telah
dimulai. Ada yang tahu statistika itu apa?” Tanya Bu Indah.
“Ilmu yang mempelajari tentang cara-cara
pengumpulan, pengolahan atau penganalisaan data, serta penarikan kesimpulan
berdasarkan data yang ada.” Jawab Sean. Mencari asal suara, ekor mata Ian
berhenti tepat memandang wajah Sean. Ia merasa, Sean sangat keren. Dia ingin
bisa seperti Sean.
“Bagus. Anak-anak, singatnya, kita hari ini akan
mempelajari tentang bagaimana mengolah dan menganalisa data dan menyimpulkannya.”
Tiba-tiba…
“Namamu Sean?” Tanya Ian.
“…”
“Aku boleh belajar bareng sama kamu nggak? Terutama
matt..ee… Yah tidur” Lanjut Ian, namun ketika menoleh ke tempat duduk Sean, ia
malah dikejutkan dengan Sean yang tidur.
+++
“Sean, Sean, udah bel pulang loh. Kenapa ngga
bangun-bangun sih?” Teriak Yoan ditelinga Sean.
“Eoh, udah pulang. Ngga ada yang bilang.”
“Pinter-pinter kok tulalit.” Celetuk Cheer dari
bangkunya sebelum beranjak keluar kelas.
“Apa? Diam kamu.” Ucap Sean santai. Sama sekali
bukan kemarahan yang ia tunjukkan, sangat cocok sebagai gambaran seorang remaja
yang cuek.
Geu
deh ji geum nae gaseum nekkeurowa sarangeul…
Tak lama bunyi ponsel Sean bordering melantunkan
lagu Geu Deh Ji Geum yang menunjukkan sang pemilik mendapat panggilan masuk.
“Halo, Ma. Loh? Mendadak banget Ma? Terus Sean sama
siapa? Oh, ya udah. Hati-hati Ma.” Sambungan diputus.
“Kamu udah ngga pusing kan?”
“I’m ok. Kamu pulang aja. Aku juga udah baikan kok. Makasih ya udah bangunin aku.”
“I’m ok. Kamu pulang aja. Aku juga udah baikan kok. Makasih ya udah bangunin aku.”
“Ok”
“Hm, Se, kenapa kok tadi tidur? Aku tadi ngajak
ngomong kamu lho.” Tegur Ian.
“What? Really? Sorry. Emang kalau matematika sering
tidur sih. Ngantuk banget, orangnya kalau ngajar suka monoton, jadi bikin
bosen.” Jawab Sean sekenanya.
“Ian, aku duluan ya.”
“Ok, bye.”
+++
“Duh, rumah sepi, ngga ditinggalin makanan, terus
apalagi ini? Main basket ah~” Ucap Sean begitu melihat meja makan yang kosong
dan langsung terjun ke gudang.
Begitu Sean keluar rumah, ia langsung disajikan
pemandangan yang mengejutkannya.
Ian,
bukankah itu Ian? Pikir Sean dalam hati.
Begitu ia membuka pagar rumahnya, jelas terlihat benar adanya apa yang telah dipikirkannya.
“Ian. Kamu kenapa bisa ada di sini? Ini rumah
barumu?” Sapa Sean.
“Hei Sean, iya. Ini rumah baruku, ternyata kamu juga
tinggal di sini.” Jawab Ian.
“Oh, ok. Aku ke lapangan baset ya. Bye..”
“Eh tunggu, aku mau ikut boleh?”
“Terus gimana sama pekerjaan kamu di sini?”
“Terus gimana sama pekerjaan kamu di sini?”
“Ada orang tua sama saudara-saudaraku yang datang
membantu. Gimana? Boleh ikut?” Jelas Ian.
“Ok, yuk.” Merekapun akhirnya berjalan bersama
menuju lapangan basket di dekat komplek rumah.
+++
“Fiufh, cape juga :D kamu keren banget mainnya Ian.”
Seru Sean.
“Haha, makasih. Iya cape banget. Yaudah, pulang
yuk.”
“Yuk. Aku maen ke rumahmu ya, lagi sepi dirumah
soalnya. Sekalian bantu-bantu kamu juga sih.” Kata Sean.
“Hm, ok. Se, aku boleh ngomong sesuatu nggak?” Tanya
Ian.
“Ya boleh Ian, siapa yang ngelarang orang lain buat
ngomong?”
“Aku…ss…suk, sukka sama k..kammu.”
“Mwoya? Kamu?”
“Iya, will you be my girlfriend?” Tanya Ian sambil
menekuk salah satu kaki berlutut di hadapan Sean.
“Hm, I will.”
“Really?”
“Yes! I am.”
“Makasih Sean. Kamu yang pertama. Makasih ya.” Ucap
Ian sambil mengecup tangan Sean.
“Dan sekarang?”
“Dan sekarang?”
“Ayo ke rumah.”
“Haha, ada ada aja kamu Ian!”
+++
Sean : Dan
cinta bisa tumbuh kapan saja, di mana saja, dan sewaktu-waktu. Cinta bisa hadir
karena dia yang hadir di hidupku. Love Ian.
Ian :
Sepertinya aku butuh lebih banyak oksigen agar bisa terus bersamanya. My first
love J
Sean.
Komentar
Posting Komentar